Senin, 02 Juli 2012

konsep konseling komunitas

Rabu, 20 April 2011 makalah konseling komunitas Diposkan oleh Suka Suka Saya di 06:30 makalah adalah tugas yang selalu kita kerjakan. banyak yang bingung untuk mencari tugas buat makalah mereka. salah satu makalah yang bisa untuk dibaca adalah makalah konseling komunitas. untuk mencari makalah konseling komunitas, anda bisa membaca contoh ini. Konseling Trauma A. Pengertian konseling Traumatis Konseling merupakan bantuan yg bersifat terapeutis yg diarahkan untuk mengubah sikap dan perilaku konseli, dilaksanakan face to face antara konseli dan konselor, melalui teknik wawancara dengan konseli sehingga dapat terentaskan permasalahan yang dialaminya. Trauma adalah suatu kondisi emosional yang berkembang setelah suatu peristiwa trauma yang tidak mengenakkan, menyedihkan, menakutkan, mencemaskan dan menjengkelkan, seperti peristiwa : Pemerkosaan, pertempuran, kekerasan fisik, kecelakaan, bencana alam dan peristiwa-peristiwa tertentu yang membuat batin tertekan, misalnya konseli(siswa) yang tidak lulus Ujian Nasional Trauma psikis terjadi ketika seseorang dihadapkan pada peristiwa yang menekan yang menyebabkan rasa tidak berdaya dan dirasakan mengancam. Reaksi umum terhadap kejadian dan pengalaman yg traumatis adalah berusaha menghalaukannya dari kesadaran,namun bayangan kejadian itu tidak bisa dikubur dalam memori. Seiring dengan kejadian tersebut konselor sebagai pendidik pada jalur formal yg bertugas melakukan bimbingan dan konseling di Sekolah bertanggung jawab untuk dapat membantu peserta didik/masyarakat/individu yg mengalami peristiwa trauma sehingga dapat keluar dari peristiwa trauma. Konseling trauma yaitu konseling yang diselenggarakan dalam rangka membantu konseli yang mengalami peristiwa traumatik,agar konseli dapat keluar dari peristiwa traumatik yang pernah dialaminya dan dapat mengambil hikmah dari peristiwa trauma tersebut. Konseling trauma merupakan kebutuhan mendesak untuk membantu para korban mengatasi beban psikologis yang diderita akibat bencana gempa dan Tsunami. Guncangan psikologis yang dahsyat akibat kehilangan orang-orang yang dicintai, kehilangan sanak keluarga, dan kehilangan pekerjaan, bisa memengaruhi kestabilan emosi para korban gempa. Mereka yang tidak kuat mentalnya dan tidak tabah dalam menghadapi petaka, bisa mengalami guncangan jiwa yang dahsyat dan berujung pada stres berat yang sewaktu-waktu bisa menjadikan mereka lupa ingatan atau gila. Konseling trauma dapat membantu para korban bencana menata kestabilan emosinya sehingga mereka bisa menerima kenyataan hidup sebagaimana adanya meskipun dalam kondisi yang sulit. Konseling trauma juga sangat bermanfaat untuk membantu para korban untuk lebih mampu mengelola emosinya secara benar dan berpikir realistik. B. Target dan Metode Layanan konseling trauma pada prinsipnya dibutuhkan oleh semua korban selamat yang mengalami stres dan depresi berat, baik itu orang tua maupun anak-anak. Anak-anak perlu dibantu untuk bisa menatap masa depan dan membangun harapan baru dengan kondisi yang baru pula. Bagi orang tua, layanan konseling trauma diharapkan dapat membantu mereka memahami dan menerima kenyataan hidup saat ini; untuk selanjutnya mampu "melupakan" semua tragedi dan memulai kehidupan baru. Di samping untuk menstabilkan kondisi emosional, layanan konseling trauma bagi orang tua idealnya juga memberikan keterampilan yang dapat dijadikan modal awal memulai kehidupan baru dengan pekerjaan-pekerjaan baru sesuai kapasitas yang dimiliki dan daya dukung lingkungan. Dengan demikian, mereka bisa sesegera mungkin menjalani hidup secara mandiri sehingga tidak terus-menerus menyandarkan pada donasi pihak lain. Untuk mencapai efektivitas layanan, maka konseling trauma dapat dilakukan dengan dua pendekatan, yakni yang bersifat individual, khususnya untuk korban yang tingkat stres dan depresinya berat, sementara itu bagi mereka yang beban psikologisnya masih pada derajat sedang, dapat dilakukan dengan pendekatan kelompok. Layanan konseling kelompok akan menjadi lebih efektif bila mereka juga difasilitasi untuk membentuk forum di antara sesama korban bencana. Lewat forum-forum yang mereka bentuk secara swadaya itulah nantinya mereka menemukan "keluarga baru" yang bisa dijadikan tempat untuk saling membantu keluar dari kesulitan yang memilukan. Menyembuhkan luka psikologis memang butuh waktu yang panjang dengan serangkaian proses psikologis yang konsisten. Oleh karena itu, seyogianya pemerintah sesegera mungkin menerjunkan relawan yang bertugas memberikan layanan konseling trauma. Seiring dengan semakin lancarnya bantuan logistik, layanan konseling seharusnya sudah mulai diberikan. Memang bisa dipahami adanya kesulitan pemerintah untuk menurunkan tim konseling trauma karena tidak mudah mencari relawan yang memiliki basis ilmu pengetahuan dan pengalaman di bidang ini. Tapi bagaimanapun, layanan konseling trauma harus bisa diwujudkan untuk membantu para korban bencana. Perlu dicatat bahwa manusia tidak hidup hanya dengan makan dan minum saja, melainkan butuh sentuhan psikologis yang mampu menyalakan api kehidupan dalam dirinya. Pemerintah, lewat layanan konseling trauma, juga diharapkan memfasilitasi terwujudnya pengembangan komunitas di daerah bencana yang bisa menjadi forum silaturahmi antarwarga korban gempa. Jika hal ini dapat diwujudkan, maka rekonstruksi Aceh akan lebih cepat berhasil dan warga korban bencana mampu membangun ketahanan sosial atas prakarsa sendiri. C. Menangani Trauma Penyebab trauma adalah peristiwa yang sangat menekan, terjadi secara tiba-tiba dan diluar kontrol seseorang, bahkan seringkali membahayakan kehidupan atau mengancam Jiwa. Kekerasan bisa menimbulkan trauma. Tak hanya fisik saja yang luka tapi juga psikis, rasa ketakutan dan terancam jiwanya, itu yang sulit disembuhkan. Trauma tak memandang usia. Anak kecil, remaja, maupun orang dewasa bisa mengalami trauma. Bedanya pada anak kecil, ia belum bisa memahami apa yang menimpa dirinya, dan trauma itu baru muncul setelah si anak dewasa. Trauma yang muncul setelah dewasa bisa mengakibatkan perubahan kepribadian, ia bisa menjadi orang yang pendendam dan kemungkinan menjadi pelaku kekerasan di kemudian hari. Menghadapi trauma dengan cara melupakan, bukan sebuah penyelesaian yang baik. “Pengaruhnya justru ke dalam diri korban, bisa mengakibatkan gangguan kejiwaan yang lain, seperti depresi, schizofrenia (kepribadian ganda), dan sebagainya,” ungkap Livia. Oleh karena itu, trauma penting sekali untuk segera ditangani. Peran konselor yang dapat dilakukan segera adalah : 1. Meredakan perasaan-perasaan (cemas/ gagal/ bodoh/ putus asa/ tidak berguna/ malu/ tidak mampu/ rasa bersalah) dengan menunjukkan sikap menerima situasi krisis, menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri serta tanggungjawab terhadap diri konseli (mampu menyesuaikan diri dengan situasi yang baru (situasi krisis). 2. Agar konseli dapat menerima kesedihan secara wajar. 3. Memberikan intervensi langsung dalam upaya mengatasi situasi krisis. 4. Memberikan dukungan kadar tinggi kepada konseli D. TEKNIK KONSELING TRAUMA STRATEGI KONSELING TRAUMA antara lain dengan : 1. KONSELING DIREKTIF ( COUNSELOR CENTERED ) ALASAN : a. Konseli (peserta didik) tidak mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalahnya sendiri, sehingga perlu bantuan orang lain yang lebih berpengalaman (konselor). b. Meskipun telah diberi layanan BK sebelum pelaksanaan ujian tentang apa yang dapat dilakukan pra dan pasca ujian nasional, konseli tidak mau menerima tanggung jawab untuk membuat keputusan sendiri. c. Beberapa masalah terasa terlalu berat untuk dipecahkan sendiri (konseli) tanpa bantuan seorang ahli (konselor). LANGKAH-LANGKAH a. ANALISIS Mengumpulkan data tentang diri konseli : b. SINTESIS Pemilihan terhadap data yang tersedia, mana yang tidak berguna dan mana yang berguna untuk mendukung pemecahan masalah yang dihadapi c. DIAGNOSIS Menyimpulkan masalahyang dihadapi beserta sebab-sebabnya. d. PROGNOSIS Memprediksi keberhasilan konseli dari kegiatan selama konseling. e. TREATMENT • Menciptakan hubungan yang baik (dekat, terbuka, suka rela) antara konselor dan konseli (peserta didik). • Menafsir data tentang konseli yang ada. • Merencanakan kegiatan yang dilakukan konseli, • Membantu konseli/ peserta didik melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan. f. FOLLOW UP Langkah menentukan efektif tidaknya usaha konseling yang telah dilakukan. 2. Peranan Konselor pada proses Konseling Menurut TRE peran konselor adalah sebagai berikut. 1. konselor lebih edukatif-direktif kepada klien yaitu dengan banyak memberikan cerita dan penjelasan, khususnya pada tahap awal. 2. mengkonfrontasikan masalah klien secara langsung. 3. menggunakan pendekatan yang dapat memberi semangat dan 4. memperbaiki cara berfikir klien, kemudian memperbaiki mereka untuk dapat mendidik dirinya sendiri. dengan gigih dan berulang-ulang dalam menekankan bahwa ide 5. irasional itulah yang menyebabkan hambatan emosional pada klien. 6. menyerukan klien menggunakan kemampuan rasional (rational power) dari pada emosinya. 7. menggunakan pendekatan didaktik dan filosofis. 8. menggunakan humor dan menggojlok sebagai jalan mengkonfrontasikan berfikir secara irasional

2 komentar: